Mana Lebih Menguntungkan? Bank Syariah dan Bank Konvensional – Perbandingan

Bank Syariah dan Bank Konvensional

Di postingan ini merupakan perbandingan Bank Syariah dan Bank Konvensional – Dalam dunia perbankan Indonesia terdapat dua jenis bank yaitu Bank Syariah dan Bank Konvensional. Masyarakat Indonesia masih belum memahami perbedaan kedua bank tersebut. Perbedaan antara keduanya berbeda. Misalnya dari segi suku bunga bank.

Selain itu, layanan kedua bank tersebut juga berbeda. Untuk membuka pemahaman dan wawasan tentang sifat Bank Syariah dan Bank Konvensional, kami akan menjelaskan perbedaan ini.

Keuntungan Bank Syariah dan Bank Konvensional

Kedua bank memberikan keuntungan bagi nasabahnya. Hanya saja, kepentingan kedua bank itu tentu saja berbeda. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, bank Konvensional adalah bank yang kegiatan usahanya dengan Konvensional, sedangkan bank syariah beroperasi sesuai dengan prinsip keuangan syariah.

Lalu, berdasarkan prinsip tersebut, bagaimana kedua jenis bank ini memperoleh pendapatan?

Bank Syariah: Pendapatan tersebut berasal dari metode bagi hasil. Bagi hasil di sini berarti bank memperoleh keuntungan dari berbagai layanan yang diberikan, seperti bagi hasil dan biaya pengelolaan pinjaman.

Bank Konvensional: Keuntungan bank model ini dari bunga, tetapi juga dari aktivitas bisnis inti bank, dalam bentuk pengelolaan dana nasabah. Pada bank syariah, bank Konvensional menetapkan biaya dalam kegiatan peminjaman.

Bentuk Usaha

Pada dasarnya bank berfungsi untuk mengelola dana nasabah atau dana masyarakat. Bahkan pemeriksaan keuangan dapat dilakukan pada produk apa pun. Ini bisa berupa tabungan, deposito, kredit, atau rekening koran. Baik bank syariah maupun bank biasa memiliki sistem sendiri untuk mengelola dana ini.

Bank Syariah: Karena tidak ada bunga dalam Islam, nasabah yang menyimpan uang di bank syariah tidak akan menerima bunga tetapi hanya bagi hasil saja. Oleh karena itu, tidak ada besaran pasti, berapa persen yang akan didapatkan pelanggan. Jika bank menghasilkan lebih banyak keuntungan bulan ini, nasabah akan mendapat lebih banyak keuntungan di bulan yang sama.

Baca:  Equity crowdfunding: Aturan, Resiko, Keuntungan dan Platform

Bank Konvensional: Dalam pengelolaan dana pada bank Konvensional yang menggunakan sistem bunga, persentase ini tetap. Ini berarti bahwa meskipun bank memperoleh keuntungan berlipat ganda, tingkat bunga tidak akan berubah, yang memudahkan untuk memperkirakan keuntungan dari tabungan atau deposito pada bank Konvensional.

Proses dalam Transaksi Perbankan

Terdapat perbedaan prosedur transaksi dan perjanjian antara kedua bank. Dalam perbankan syariah, transaksi dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Pada saat yang sama, di bank Konvensional/tradisional, semua transaksi dan perjanjian didasarkan pada hukum yang berlaku di Indonesia.

Bank Syariah: Transaksi itu berdasarkan Alquran dan Sunnah, serta Fatwa oleh Majelis Ulama Indonesia atau MUI.

Bank Konvensional: Transaksi hanya didasarkan oleh hukum yang berlaku di Indonesia.

Perkreditan dan Pinjaman

Kebutuhan pinjaman dan kredit tidak bisa dihindari. Bank tradisional dan bank syariah memiliki regulasi yang berbeda dalam hal ini. Misalnya pada sistem perbankan konvensional, pengelolaan risiko kredit macet menjadi tanggung jawab debitur.

Debitur harus bisa mengelola dananya sendiri untuk melunasi hutangnya. Dalam sistem syariah, bank juga menanggung kerugian. Ini penjelasannya!

Bank Syariah: Berdasarkan pendapatan yang disepakati antara bank dan nasabah selama perjanjian kredit, rencana pinjaman dilaksanakan dengan jumlah tetap. Misalnya debitur meminjam uang untuk berbisnis.

Kemudian, di bulan ketiga dia tidak bisa membayar cicilan. Kemudian, kerugian tersebut juga ditanggung oleh bank sebagai kreditur. Artinya jika pendapatan bank berkurang akibat kredit macet, maka bagi hasil bagi investor dan deposan lainnya juga akan berkurang.

Hal ini terjadi karena sistem perkreditan didasarkan pada kemitraan. Harap dicatat bahwa bank syariah juga memberikan kredit tanpa jaminan atau KTA.

Bank Konvensional: Hal ini tentu berbeda dengan bank syariah, pada bank tradisional jika debitur gagal membayar cicilan tepat waktu maka disebut denda atau biaya tambahan. Pasalnya, persentase bunga yang diberikan kepada investor dan deposan dana bank tidak berubah. Terlepas dari kredit macet atau tidak.

Baca:  Apa itu Investasi Jangka Pendek: Jenis dan Metode Investasi + Rekomendasi

Sistem Bunga

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bank tradisional tidak dapat dipisahkan dalam sistem bunga. Sementara itu, bank syariah menerapkan sistem bagi hasil karena bunga dianggap riba.

Bank Syariah: Islam tidak memandang kehadiran bunga sebagai kehalalan. Oleh karena itu, perbankan syariah tidak menggunakan sistem ini. Intinya, jika bank telah meraup untung besar maka jumlah bagi hasil bagi investor dan nasabah akan meningkat. Sebaliknya jika keuntungan bank menurun maka bagi hasil bagi investor dan nasabah juga akan menurun.

Bank Konvensional: Besarnya bunga telah ditentukan oleh bank berdasarkan jumlah pinjaman. Dengan cara ini, bagi nasabah yang menyimpan uang di bank Konvensional, meskipun bank memperoleh keuntungan besar, persentase bunga tidak akan meningkat. Begitu pula ketika bank merugi, persentase bunganya tidak akan berkurang atau tetap sama.

Mana yang Lebih Menguntungkan?

Padahal, pada Bank Konvensional dan bank syariah memiliki kelebihan dan risikonya masing-masing. Jika Anda tidak keberatan dengan sistem bunga tetapi ingin mendapatkan keuntungan dari deposito, Anda dapat menggunakan layanan perbankan Konvensional.

Sedangkan apabila Anda ingin tenang dalam aktivitas perbankan karena mengikuti aturan Islam, Anda dapat menggunakan Bank Syariah. Selain itu, karena lokasi nasabah dianggap sebagai rekanan, maka ketika bank meraup banyak keuntungan, Anda akan mendapat lebih banyak keuntungan dari tabungan.