Anindita Parameswari Anindita adalah seorang B2B Lead Generation, Data Entry, Data Mining, Virtual Assistant, Web Search Services, Internet Research, Admin Support, dan Web Scraping.

Apa Itu Crowdsourcing, Pendanaan Baru di Era Digital

2 min read

Crowdsourcing

Crowdsourcing

Crowdsourcing – Perkembangan perekonomian nasional yang berkelanjutan dan aktifnya pemerintahan yang aktif mengembangkan berbagai bentuk usaha UKM di masyarakat telah banyak menciptakan cara untuk mendapatkan dana guna memperoleh dana untuk pengembangan usaha yang lebih maju dan lebih baik.

Padahal, ada metode mudah yang sedang dikembangkan di masyarakat, yaitu crowdsourcing, yang merupakan konsep pendanaan baru di era digital. Apa itu serta bagaimana cara kerjanya?

Apa itu Crowdsourcing?

Dikutip dari Wikipedia, crowdsourcing berarti crowdfunding dalam bahasa Indonesia. Menurut “Kamus Besar Bahasa Indonesia”. Oleh karena itu, crowdsourcing dapat dikatakan merupakan kemampuan dari dukungan.

Singkatnya, bisnis crowdsourcing adalah bisnis yang mengandalkan banyak orang. Sumber produksinya tidak hanya diproduksi oleh satu orang, tetapi juga dari masyarakat sekitar. Bisa dikatakan ada perusahaan crowdfunding lokal, dan konsumen juga merupakan produsen.

Berdasarkan pemahaman tersebut, bisnis crowdfunding semacam ini sebenarnya sangat erat kaitannya dengan bisnis sosial atau wirausaha sosial. Peran perusahaan tidak hanya untuk kepentingan pribadi, tetapi juga berperan dalam pemberdayaan masyarakat.

Istilah crowdsourcing pertama kali muncul pada tahun 2006. Diusulkan oleh Jeff Howe melalui WIRED. Ia mencontohkan salah satunya di National Health Museum di Washington.

Setelah kegiatan fotografi amatir, seluruh komunitas memperhatikannya tanpa memandang usia, latar belakang pendidikan, atau kelas sosial.

Jeff Howe sendiri mengartikan bisnis crowdfunding sebagai kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan yaitu menjalankan fungsi-fungsi kerja yang semestinya dilakukan oleh karyawan, kemudian secara bebas dan terbuka mendistribusikannya kepada banyak orang yang terkoneksi dengan internet.

Baca:  7 Daftar Investasi Reksadana Syariah Terbaik Indonesia | Mulai Rp 100.000

Namun nyatanya, pada tahun 2000, produsen kaos grafis Threadless justru pertama kali memulai praktik bisnis crowdsourcing.

Threadless memberdayakan masyarakat dengan membuat desain kaos mereka sendiri, yang kemudian dipilih oleh Threadless dan dijual setiap hari Senin. Selama ini Threadless masih menggunakan konsep bisnis yang sama.

Perbedaan Crowdsourcing dan P2P Lending (Peer to Peer Lending)

Jika crowdsourcing bersifat sukarela, maka P2P lending atau konsep yang sekarang disebut Fintech Lending adalah sama, tetapi rencananya berbeda karena P2P adalah lending.

Pinjaman yang Anda ajukan di Fintech Lending akan dibiayai oleh banyak investor, Anda dapat mengembalikan dana pinjaman dengan bunga pinjaman yang lebih rendah setiap bulannya, dan proses pengumpulan dana lebih cepat.

Konsep Crowdsourcing

Bisnis crowdfunding sendiri memiliki dua konsep, yaitu konsep umum dan konsep khusus. Biasanya konsep bisnis ini dirancang untuk melibatkan orang dalam jumlah yang tidak terbatas, tanpa memandang kelas sosial, ekonomi, agama, pendidikan, dll.

Yang dibutuhkan adalah konsistensi dan kesediaan orang tersebut untuk berkontribusi.

Secara khusus, bisnis crowdfunding menunjukkan keinginan perusahaan untuk memberikan solusi atas permasalahan dalam bertransaksi, terutama permasalahan yang berkaitan dengan birokrasi, seperti rekrutmen pegawai. Artinya, setiap orang memiliki kesempatan sama dalam mendapatkan hasil.

Bidang Crowdsourcing

Bidang ini adalah bidang komersial pertama yang menerapkan crowdfunding. Contoh dari apa yang dilakukan InnoCentive. Perusahaan mengundang ribuan pemecah masalah untuk menyelesaikan masalah strategis perusahaan.

Melalui website InnoCentive, perusahaan pengguna jasa juga dapat memposting masalah yang terjadi di website dan kemudian secara otomatis menghubungkannya ke program pemecahan masalah.

Dalam industri digital, Anda tahu bahwa Shutterstock dan Envato adalah model bisnis crowdfunding di bidang pengadaan aset visual. Ada Jutaan pengunggah foto dan juga desainer grafis merupakan profesional, dan mereka memiliki pendapatan dari setiap desain atau foto yang diunduh oleh pengguna.

Baca:  Cara Mengetahui Keuntungan dalam Investasi Reksadana

Dalam industri ilmiah, terdapat Wikipedia, yaitu situs ensiklopedia yang terbuka untuk umum, di mana orang dapat menulis, mengedit, dan menghapus materi yang dikirimkan oleh Wikipedia.

Contoh yang paling baru adalah transportasi online yaitu ojek online. Perusahaan memberikan wewenang kepada masyarakat untuk menjadi mitra ojek.

Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa sekaligus memperkuat pernyataan Jeff Howe bahwa model bisnis crowdfunding juga sangat erat kaitannya dengan teknologi. Alasannya karena ini adalah forum pertukaran informasi yang cepat dan menarik banyak orang.

Kekuatan dan Kelemahan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, konsep bisnis berbasis crowdsourcing bertujuan untuk menjangkau seluruh masyarakat tanpa melalui prosedur birokrasi. Melalui model bisnis ini akan terbentuk komunitas baru yang mampu melahirkan pasar dan profesi baru.

Masalah dan risiko yang timbul dari crowdsourcing atau crowdfunding terkait dengan hak cipta. Karena hak cipta, pihak yang tidak bertanggung jawab dapat menyalahgunakan karya kontributor.

Tren Masa Depan

Ke depan, aktivitas dan arus pertukaran informasi harus membantu. Tidak ada lagi kendala, tidak ada persaingan yang ketat, melainkan bisnis kolaborasi, sehingga bukan tidak mungkin bisnis crowdsourcing akan menjadi model yang akan banyak digunakan di masa depan.

Berikut sekilas tentang bisnis crowdsourcing yang dapat menginspirasi bisnis Anda.

Anindita Parameswari
Anindita Parameswari Anindita adalah seorang B2B Lead Generation, Data Entry, Data Mining, Virtual Assistant, Web Search Services, Internet Research, Admin Support, dan Web Scraping.
×

Tingkatkan keahlian dan siap kerja dengan ikut kursus gratis

Disini